Langsung ke konten utama

CERITA AJI SAKA

Dahulu kala ada seorang raja. Namanya adalah Aji Saka. Dia sakti mandra guna. Dia mempunyai 2 orang abdi bernama Dora dan Sembada. 
Suatu hari, Aji Saka mau bepergian. Dia mengajak salah satu abdinya bernama Dora. Dan meninggalkan sebuah pusaka berupa Udheng (ikat kepala) kepada Sembada. Dia berpesan kepada Sembada, bahwasannya pusaka itu tidak boleh diambil oleh siapapun kecuali Aji Saka sendiri. 
Dalam pengembaraannya, Aji Saka berjumpa dengan raksasa yang suka memakan daging manusia bernama Dewatacengkar. Untuk membunuh raksasa itu, Ajisaka membutuhkan pusakanya. Maka disuruhlah Dora untuk mengambil pusaka tersebut.
Berangkatlah Dora menemui Sembada temannya, untuk mengambil pusaka Ajisaka. Namun Sembada tidak memberikan pusaka yang diminta oleh Dora. Karena dia memegang pesan Ajisaka, bahwa pusaka tidak boleh diberikan kepada siapapun kecuali kepada Ajisaka sendiri. 
Karena sama-sama merasa diberi wewenang oleh Ajisaka, kedua orang ini akhirnya berkelahi. Karena sama-sama saktinya, akhirnya keduanya mati sampyuh (mati bersama-sama).
Ajisaka yang lama menunggu kedatangan Dora, akhirnya pergi menyusulnya. Dan dia menemukan kedua abdinya mati sampyuh. Dia menyesal. Untuk mengenang kesetiaan kedua abdinya itu, maka dia mengarang aksara Jawa yang berbunyi :

HA NA CA RA KA

DA TA SA WA LA

PA DHA JA YA NYA

MA GA BA THA NGA


Artinya :
Hana caraka.
Hana = ana, ada. Caraka = utusan. Jadi : Ada utusan.

Da ta sawala. 
Da ta = datan, tidak. Sawala = suwala, membantah. Jadi : tidak pernah membantah, selalu memegang teguh perintah.

Padha jayanya.
Padha = sama-sama. Jaya = sakti, menang. Jadi : Sama-sama saktinya.

Ma ga bathanga
Ma ga = mangka, maka. Bathang = mayat, bangkai. Jadi : maka jadilah mayat semua.

Singkat cerita, dengan pusakanya yang berbentuk udheng, Dewatacengkar akhirnya terbunuh. Caranya adalah Dewatacengkar memegang ujung udheng itu. Udheng akhirnya molor, semakin panjang, sampai laut selatan. Dan Dewatacengkar akhirnya diceburkan ke laut selatan dan berubah menjadi buaya putih.


Jaman masih kecil dulu penulis sering didongengi oleh Ibu. Salah satu dongeng yang penulis sukai adalah cerita Aji Saka. Dalam dongeng itu, saat itu penulis sangat kagum kepada tokoh Aji Saka.

Cerita singkatnya Ajisaka adalah leluhur orang Jawa yang memperkenalkan huruf atau tulisan Jawa.
Orang Jawa sudah terkenal sekali dalam membuat pengandaian atau sanepa. Berbagai asal usul tempat diceritakan dalam bentuk legenda. Beberapa kejadian di kerajaan diceritakan dalam bentuk legenda.
Maka lahirlah legenda Jaka Tingkir, Gunung Tangkuban Perahu dan sebagainya.

Menurut penulis, Ajisaka ini juga sebuah legenda. Yang di balik ceritanya mengandung makna yang sama sekali lain dari kelihatannya.

Maka penulis berusaha mengupas cerita legenda ini.
Ajisaka adalah seorang yang sangat peduli dengan tulis menulis. Dalam hal ini dilambangkan sebagai pencipta huruf/aksara. Jawa. Tulisan/huruf adalah sumber pengetahuan. Artinya, Ajisaka adalah raja yang sangat konsen dengan ilmu atau pendidikan rakyatnya.
Disebutkan bahwa Ajisaka punya dua abdi. Yaitu Dora dan Sembada. Dora dalam bahasa Jawa berarti bohong. Sembada dalam bahasa Jawa artinya pandai. Itu merupakan perlambang wujud dari sifat baik dan sifat buruk dalam diri manusia. Dora adalah sifat buruk. Seperti malas, bohong. Sembada adalah sifat baik seperti rajin, pintar. Kedua sifat itu selalu bertarung, dalam upaya manusia untuk menuntut ilmu. Kadang sifat baik yang menang, kadang sifat buruk yang menang. Yang akan terus bertarung sampai manusia menjadi mayat.
Pusaka Ajisaka adalah Udheng/ikat kepala. Udheng berasal dari kata mudheng. Mudheng dalam bahasa Jawa berarti mengerti, paham.
Udheng ini bisa mulur/berubah manjadi panjang sekali. Maknanya, bila kita sudah memahami suatu ilmu, maka nalar kita akan panjang. Artinya kita akan berakal panjang. Berakal banyak. Dengan pemahaman yang baik (mudheng) itu manusia akan mempunyai akal/nalar panjang yang bisa menyelesaikan hambatan/halangan. Yang dalam hal ini dilambangkan dengan raksasa Dewatacengkar. Dewatacengkar adalah raksasa yang memakan daging manusia. Merupakan perlambang kebodohan. Kebodohan akan menjerumuskan manusia dalam celaka.

Jadi dengan aksara/huruf, manusia dapat belajar atau meraih ilmu. Sehingga bisa memahami dengan mendalam (mudheng, pusaka udheng). Dalam usaha meraih ilmu itu dalam diri manusia akan selalu bertarung sifat baik dan sifat buruk, yang tidak berhenti sampai manusia mati (bathang). Pemahaman yang baik dapat menyelamatkan manusia dari kebodohan (Dewatacengkar).

Itulah othak athik mathuk dari penulis. Mudah-mudahan membawa manfaat.
Bagaimana pendapat anda???


Komentar

Postingan populer dari blog ini

PINDAH GIGI PERSNELENG GROOOKKK....GANTI SYNCROMESHNYA.

Salah satu keluhan yang sering saya dengar dari para Flocker adalah masalah di gigi transmisi. Disini saya mendapat beberapa kosa kata. Beberapa bilang persneleng suka nglepeh. Nglepeh = gigi masuk, di gas jalan kalo gas dilepas gigi pindah sendiri ke netral. Keluhan yang lain adalah gigi susah masuk dan kalau masuk menimbulkan suara grroookkk...... Keluhan ini juga saya alami. Saat mobil berhenti, masuk ke gigi 1 lancar. Tapi kalau posisi mobil sedang jalan, susah. Misalnya saat kita jalan, kemudian memperlambat laju mobil. Kemudian saat mobil masih berjalan pelan, gigi kita pindah dari posisi 2 ke 1, akan susah. Kalaupun dipaksa maka akan timbul suara grookkk..... Untuk memindahkan gigi dari 2 ke satu, kondisi mobil harus berhenti. Kondisi ini akan menyulitkan kita, terutama saat kondisi jalan macet-macetan. Dan terutama saat kondisi jalan menanjak. Memaksakan kondisi demikian dapat merusak gigi persneleng. Gejala seperti ini disebabkan oleh syncromesh (sinkromes/...

NOMOR RANGKA KEROPOS

     Pengalaman ini saya alami ketika pegang Suzuki Carry. Ketika akan ganti STNK, dilakukan cek fisik. Saat dicek, ternyata nomor rangka yang berada di bawah jok tidak kelihatan karena keropos. Diperiksa dengan lebih teliti oleh petugas gesek dan atasannya. Masih nampak bahwa nomor orisinil.      Akhirnya oleh petugas diberikan surat pengantar untuk mengurus nomor rangka baru.  Surat Pengantar ditujukan ke Polda Jatim. Berbekal surat itu, saya ke Polda Jatim. Mobil dibawa. Di Polda, kebetulan ada keponakan yang dinas disana. Dengan bantuannya, Carry di cek fisik. kemudian hasil cek fisik dibawa ke bagian adiministrasi. Lalu keluar surat pengantar ke dealer Suzuki. Biaya 100 ribu.      Surat Pengantar dibawa ke UMC di jalan A.Yani, satu deret dengan Polda. Di UMC surat diterima. Lalu dikasih tanda terima. Tiga hari kemudian disuruh ambil. Keluar, berupa lempengan logam bertuliskan nomor rangka mobil. Disertai surat kete...

Kotak Sekring dalam Kabin

Meskipun letaknya di dalam kabin, tutup kotak sekring Ford Laser eks taksi yang berada di samping pintu pengemudi ternyata tidak sepenuhnya “aman”, alias bisa saja hilang. Mungkin karena memang sudah tidak ada saat meminangnya dulu atau memang terlupa memasangnya kembali sehingga kemudian hilang. Padahal tutup kotak tersebut relatif penting. Pasalnya, di atas tutup tersebut terdapat petunjuk yang berisikan informasi besaran amper dan kegunaan fungsi sekring tersebut. Sehingga memudahkan kita saat mengganti salah satu sekring yang putus dengan besaran amper yang sesuai. Tanpa berpanjang lebar lagi, di bawah ini adalah gambar pada tutup kotak sekring yang berada dalam kabin Ford Laser eks taksi. Semoga penayangan artikel ini dapat memenuhi permintaan pembaca yang masuk ke redaksi www.fordlaserbogor.blogspot.com . Semoga bermanfaat. (FLB) 2 komentar